Mata Teduh itu …

Tadi aku menatap mata teduh itu lagi, mata yang menenangkan dan membuat suasana terasa nyaman. Mengenal mu membuatku bangga akannya. Aku memiliki teman sebaik dan sehebat kau.

Mata teduh itu mengajarkan banyak hal.

Arti hidup, bagaimana kita benar-benar hidup

Arti menyenangi sesuatu, bagaimana kita menikmati alurnya

Memahami setiap masalah, bahwa pasti ada jalannya.

Hanya dengan satu tatapan, maka kami tenang.

Seakan tak ada masalah yang begitu berat yang akan dijalaninya, ia ikhlas menjalani hidup yang menurutku, ia memiliki begitu banyak tantangan di sekitarnya. Namun, karena ia terlalu beuruntung memiliki mata teduh diiringi senyuman indah ketika melewatinya.

Mengenal sejak tiga tahun yang lalu, membuatku menyadari “pantas saja banyak yang menyayanginya”

Bagaimana mana tidak bangga memiliki kawan sehebat kau..

Terimakasih telah mengajarkan ku arti sabar yang sebenarnya, karena memang aku orang yang tidak sabaran.

Terimakasih telah mengejarkan ku arti ikhlas yang sebenarnya, karena aku seringkali tak bisa ikhlas begitu saja.

Hari ini ku lihat lagi mata teduh itu, menyapaku dengan riang, dan seakan memberikan kata-kata semangat dengan memamerkan gigi putihnya. Ia berkata lewat mata “semangat untuk hari ini, kau pasti bisa melewatinya, kawan!”

Advertisements

Bebas itu ?

Perahu Kertas, yup sore ini dihabiskan bersama teman-teman untuk menonton salah satu film Indonesia yang lagi hangat-hangatnya perbincangan di masyarakat. Yang paling menarik disana menurutku tentang makna Bebas.

Kebebasan dengan kata dasar bebas. Sering kita mendengarkan kata bebas. Pun banyak orang yang mengaharapkan bebas tersebut. Ada yang ingin bebas dari penatnya, bebas dari tanggungjawabnya, bebas dari pikiran yang memaksanya untuk tak menjadi diri orang lain, dan lain sebagainya yang akan membuat seseorang tersebut lebih merasa seperti burung yang dengan senangnya mengepakkan sayap kemana ia akan pergi dan mendarat. Jujur saja, saya masih kurang paham dengan arti bebas tersebut, bagaimana rasanya benar-benar bebas, apakah iya kita akan merasakan kebebasan yang bena-benar hakiki? Itu lah yang masih saya pertanyakan sampai saat ini.

Mungkin benar, ada kalanya kita harus jujur terhadap diri sendiri, tak perlu bercermin dengan orang lain sehingga kita harus selalu merasa menjadi pantulan orang lain itu. Terkadang rasa ingin membiarkan imajinasi kita pergi melayang tak tentu arah sesuai dengan kehendak hati kita. Melakukan hal yang membuat kita bahagia dan senang, tanpa harus takut untuk dilarang oleh orang lain.

Merasakan semilir angin yang berhembus menerpa wajah, sambil memejamkan mata di tengah rumput hijau, tanpa harus memikirkan beban-beban yang tertancap di pundak.

Deru ombak di pinggir pantai yang menjadi pengiring musik nan syahdu di tengah butiran pasir yang ramai dan hanya ada aku, ombak serta butiran halus pasir yang menjadi alas rebah ku.

Ekspresi senang riang gembira, loncat sana loncat sini tanpa harus merasa malu sambil menempelkan cat warna-warni di dinding-dinding putih seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Entahlah, mungkin harus sering lebih jujur terhadap diri sendiri, lebih sering merenung dan berfikir, lebih membebaskan pikiran, kita bisa menemukan makna kebebasan dengan definisi kita masing-masing. Merasakan kebebasan dengan cara kita sendiri tanpa harus melihat cara orang lain menikmati kebebasan. Sehingga bisa jadi dengan duduk di sudut ruang kumuh pun kita akan merasa bebas, karena bisa jadi pula kita tak akan menikmati makna kebebasan yang sama.

Entahlah, kalau kata iklan sih Bebas itu Nyata 🙂

Hikmah Sore dari Bapak Dosen

Kegalauan tingkat akhir yang sedang mendera mahasiswa IPB semester 7 semakin memuncak. Penelitian, magang, proposal, skripsi, seakan –akan bercabang menari diatas kepala. Belum lagi, semester 7 yang memang seharusnya masih ada kuliah walaupun beban sks nya perlahan demi perlahan sudah berkurang. Banyak yang menyangsikan kalau lulusan pertanian nanti mau kerja dimana, nanti gak ada yang mau terima kerja dll sebagainya, kemudian kepedulian mahasiswa pertanian kepada nasib pertanian pun tidak terlalu besar. Nah, inilah yang bikin galau salah satu dosen saya di Departmen Proteksi Tanaman, dia selalu memacu mahasiswanya untuk menyiapkan pasca kampus dengan baik dan matang namun tetap dalam koridor pertanian. “selama manusia itu masih butuh makanan, yang jangan khawatir, lulusan pertanian masih tetap ada kerja” kata-kata dosen ini lah yang membuat saya semakin terpacu lagi untuk menyiapkan masa pasca kampus dengan lebih khidmat.

Bapak dosen yang menjadi inspirasi di sore tadi, menceritakan tentang bagaimana lika-liku pertanian jika kita mau terjun ke lapang. Usaha itu butuh kerja keras dan kemauan yang lebih. Satu yang jadi fokus adalah, bertahap. Bayangin deh, kalo kita mau nya langsung jadi orang oke, kaya, punya segalanya tanpa usaha? Apa itu bisa terwujud. Penekanan mulai dari nol, menjadi point penting dalam obrolan tadi, tahap demi se tahap asal mau dan konsisten. Belajar dari petani, itu penting. Petani itu, teori real mungkin dia gak ahli, tapi kalo udah disuruh ke lapang, langsung terjun, kita yang berguru sama para petani. Mereka itu guru terbaik. Kesederhanaan, kesehajaan, dan krativitas mereka yang patut di contoh sama kita.

Bekerja dengan hati, apapun yang kita kerjaan atas kemauan hati itu dijamin gak bakal capek deh. Seneng terus, karena yang kita kerjain adalah apa yang kita mau dan senangi. Kerjasama sesama teman, menjalin silaturhami dengan baik, dan menjaga silaturahmi tersebut merupaka salah satu cara untuk mempertahankan jaringan dan mendapatkan jaringan. So, kita gak bakal ngerasa sendiri dan otomatis gak stress sendiri juga dong. Kepedualian, sama siapa? So pasti sekitar kita, teman, sahabat, dan pastinya masyarakat yang membuthkan kita. Jangan sampai kita seakan-akan bisa sendiri, tanpa mau mendengar sekitar kita, tanpa mau belajar dengan mereka yang sudah berpengalaman lebih dulu, inti nya mah jangan gede rasa duluan 🙂

Banyak banget penceraha yang di dapet tadi sore, intinya bekerja dengan hati, jaga kepedulian dan tetep kerjasama. Terimakasih bapak 🙂

HIDUP PERTANIAN INDONESIA !

Jejak Jejak Bengkulu Utara

Sudah lama sekali rasanya tak menulis, kaku, gak jelas mau nulis apa tapi dicoba lagi. Kita gak tau gimana kita bisa atau gak tanpa dicoba kan? 🙂

Oke, udah lama pengen banget cerita tentang perjalanan panjang dan penuh sensasi di Raflesia Island, yup benar sekali itu Bengkulu. Takut, khawatir berlebih, seneng, sedih, semua jadi satu. Ragu awalnya untuk meg iya kan pilihan sendiri untuk ber KKP (Kulih Kerja Nyata di IPB kalau di Univ lain namanya KKN). Khawatir membuncah sebelum berangkat, banyak pertanyaan aneh-aneh dan mengerikan yang dibuat sendiri, “nanti ketemu orang baru yang gak dikenal, gimana nyatunya, beda Univ lagi?” atau :waduh, wilyah yang rentan banget sama gempa, huaaaa emak belum kawin” (lebay) atau “Sumatera nih men, walau sendirinya orang sumater tapi masih ngeri-ngeri gimana gitu”. Yah, akhirnya, dengan sugesti diri sendiri pun harus dihilangkan pikiran aneh-aneh gak jelas yang bisa menghmbt keberngktan tugas kampus nan mulia ini.

1 Juli 2012, tiba di tanah Bengkulu sekitar pukul 11 pagi dan langsung diangkut dengan panitia KKN Bersama ke penginapan yang sudah disediakan. Saya dan 9 orang teman yang berasal dari Institut Pertanian Bogor memang ditugaskan untuk KKP di daerah bengkulu ini. Banyak alasan yang akhirny kami memilih untuk ber KKP disini, ada yang pengen cari pengalaman di sumatera, ada yang bosen dengan pulau jawa sehingga ingin menjejakkan kaki di pulau suamtera, dan alasan saya pribadi adalah karena dekat rumah di Sumatera Selata, irit ongkos men :p

Petualangan kami pun dimulai, 2 Juli 2012. Sebelum kami dipisahkan satu sama lain, yang harus bergabung dengan kelompok KKN bersama universitas bengkulu. Informasi saja, kami ditempatkan di kelompok mahasiswa Univ. Bengkulu sebanyak 10 kelompok, dan ini merupakan program KKN bersama yang tidak hanya melibatkan IPB dan Univ. Bengkulu saja, tetapi juga ada Univ. Yang lain juga, misal Univ. Sriwijaya, Univ. Riau, Univ. Andalas. Kami mengikuti upacara pelepasan di rektorat Univ. Bengkulu dan betapa terkejutnya kami ketika pelaksanaan upacara pada rusuh dan ngobrol di belakang, kami cuma cengok, bengong, kayak orang bego yang terus pura-pura khidmat mengikuti upacara -_-. Setelah upacara selesai, kami langsung berpisah satu sama lain, acara lebay-lebay an sedih pun dimulai karena terpisahkan. Saya langsung menunggu teman kelompok saya yang bersedia menjemput saya dengan barang bawaan yang saya kira itu sudah sangat banyak sekali. Akhirnya setelah dinanti-nanti datang juga teman sekelompok yang membawa motor bersedia mengangkut saya dan koper serta tentengan yang super berat ini. Sampainya di tempat berkumpul dan tempat salah satu kostan teman UNIB, ternyata ada satu angkot yang isinya barang-barang perlengkapan untuk ber KKN bersama, ada kompor, gas, galon, dispenser, printer, kasur, bantal, boneka, dll yang awalnya bikin shock. Namun, usut punya usut, barang yang dibwa oleh kelompok ku ini masih terlalu sedikit dibandingkan dengan barang yang dibawa oleh kelompok lain!!! what????

Sebelum sampai di desa masing-masing, kami disambut dan dilepas untuk ber KKN bersama di bupati bengkulu utara karena di kabupaten ini lah kami akan mengabdikan diri di masyrakat desa. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali, dan sejauh mata memandang siring dengan mobil yang mulai masuk ke desa-desa hanyalah perkebunan sawit dan karet yang terlihat sert goncangan akibat jalan yang berbatu dan rusak. Tambah keluar keringet dingin, setelh tau bahwa nanti kamar mandi cuma ada kamar mandi dadakan dan gak ada WC, dan nyuci harus ke sungai. Mandi menggunakan air sungai, langsung pengen nangis sejadi-jadinya, inget rumah, pengen pulang. Namun, kalo gak inget gimana niat awal udah kabur deh ini :p.

Setelah sampai di desa yang saya bayangkan akan seseram dan terpolosok sekali itu, maka ada yang melegakkan hati saya, yaitu tuan rumah yang sangat ramah dan menyambut kami dengan senyum sumringah.

Diawal, aku harus langsung bisa sosialisasi sama temen kelompok yang baru di kenal. Oke lah gak apa-apa kalo harus SKSD yang memang paling jarang aku lakukan sama orang lain. Setalah itu, sosialisasi dengan warga yang memang bahasa yang mereka gunakan masih bisa saya mengerti kecuali kalau udah rada-rada berat bahasanya, nyerah deh. Pembicaraan tentang program yang kami lakukan, diharapkan dapat mengenal satu sama lain, khususnya aku yang harus berusaha lebih lagi untuk mengenal mereka, gimana cara mereka menyelesaikan masalah, gimana cara mereka kerja, gimana program yang sudah mereka rancang untuk modal buat aku juga dalam memasuki masa perkenalan.

Enam minggu saja aku disana, banyak sekali ternyata kenangan yang tercipata, baik dalam menjalankan program, dalam bersosialisasi, dalam bersenda gurau, dan lain sebagainya. Memang tak akan lepas dari konflik yang terjadia dimasing-masing diri kita. Ada ego, marah, prasangka, yang mungkin seringkali menghambat kedekatan kita.

Terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapakan kepada seluruh teman kelompok saya, summon ah satu-satu.

Ronggur, thanks berat atas usaha untuk membawa saya membaur dengan teman-teman yang lainnya, mencairkan suasana dan tekadang bikin bete dengn keisengannya. Semangat untuk kuliahnya, salut buat usaha untuk belajar jadia pemimpin yang baik. Dijaga silaturahminya dengan semua temen kelompok kita.

Yuliza, ibu bendahara yang sangat pintar me manage keuangan kita, sehingga kita bisa makan terus, namun tetap hemat. Makasih udah buat aku ngerti gimana cara nya lebih mandiri dari cerita-cerita kamu, lebih tegas, dan lebih dewasa. Jadi ibu guru yang baik dan cantik ya untuk anak-anak PAUD nya.

Winda, calon guru biologi yang orangnya netral parah. Suka banget dengan sifat cuek nya *coba aku bisa kayak kamu, aku mah rempong J. Semngat terus yaa..

Nina yang cantik, anak bontot yang ternyata perasa banget orangnya. Suka bikin aku ketawa sama tingkahnya. Semangat yaa bu, sukses di Administrasi Negaranya 🙂

Feri, calon petanni yang tangguh, sukses buat bedengan yang udah bantuin aku di program pekarangan. Otonya tangguh banget untuk nyangkul.

Edi, bela hukum dengan baik pak, sukses ya !

Redo, ahhh ini orang keren banget sih. Gentlement, berani ke lapang panas-panasan dan berani ke dapur juga untk ngulek cabe. Oke punya !

Kalau aku gak ke bengkulu, gak bakal ketemu sama mereka, gak bakal punya kenangan di tanah raflesia, dan gak bakal nemuin keunikan yang terjadi disana (mandi di sungai, nyuci di sungai, masak kurang garam, dsb). Makasih udah negeluangin waktu kalian demi mengantarka jalan-jalan ke pantai panjang yang saya idam-idam kan, makasih untuk bakar-bakar ayam di malam terakhir aku di bengkulu, makasih juga untuk warga desa Suka Mulya yang udah bekerjasama dengan baik. Senyum, obrolan, sapaan, teguran, dukungan, dan tangisnya.

Dan luar biasa sekali bisa mengenal keluarga Bapak Ardan. Sosok bapak yang humoris, baik hati, dan pemurah sekali, sosok ibu yang menyenagkan hati anak-anaknya, sosok kakak yang membkar semangat adik-adiknya dengan segala kekurangannya, seorang adik yang membahagiakan orang tuanya dengan senyum dan perilaku yang sopan. Keluarga Harmonis :’)

Miss them 🙂

 

Bogor, 7 September 2012

Kamar kost 3RRR..

KAGUM

Benar-benar untuk sekarang aku tak berani dengan kata yang disebut KAGUM dan SUKA

Banyak orang yang mengira suka (antar lawan jenis) menimbulkan efek bahagia terlalu berlebihan, terkadang juga sakit yang terlalu menyakitkan. Ah itu kenapa untuk sekarang enggan menyebutkan makna cinta tersebut. Penah suatu hari, di suatu waktu, aku terkagum dengan seorang pria, wajah rupawan, pikiran pun menawan. Cerdas, pintar, dan ahh entah apalagi julukan untuk seorang yang bernama ini. Aku menelisik, mempelajari, mengamati dan merenungi, makna dibalik kekaguman diri ini sebagai seorang keturunan hawa, dan dirinya sebagai seorang keturunan adam. Ini salah, selalu aku menyangkal dalam hati dan relung jiwa yang terdalam, ini dosa aku tahu sejak lama. Tak boleh aku terlarut dalam kekaguman nan fana ini.

Tahukah?! aku berusaha kuat lho untuk tidak terkagum lagi, namun ada rasa-rasa yang berkembang ternyata diam diam dalam hati ini. Benar-benar merasa menyesal, kenapa diawal aku pernah mengaguminya, salah? Tentu saja, bagaimana tidak, hatiku yang seharusnya ku persembahkan hanya pada satu yang sah, sudah ku kotori dengan satu nama yang belum sah bagiku.

Hmmm, tahukah?! sekarang aku sedang menjalani terapi hati, aku berusaha, aku berdoa, aku memohon, jadikanlah hati ku hanya terkagum yang berlebih pada Mu saja, jika memang waktunya nanti aku memang harus terkagum dengan nya, maka di saat yang sudah sah saja munculkan kembali kagum ku ini ya Allah :’)

*FIKSI, mendramatisir cerita saja, semoga bermanfaat 😀

Pasir dan Mutiara

Pernah suatu ketika, di suatu massa, aku yang layaknya bisa disebut sebutir pasir di pantai. Menjadi sangat beruntung disatukan dengan para mutiara-mutiara nan elok rupa maupun perangai. Mutiara-mutiara tersebut di rumahkan dalam istana nan megah dan indah. Aku terpaku, melihat begitu banyak keindahan-keindahan menyilaukan mataku, waw ini belum pernah aku lihat. Asing dimataku, namun ada perasaan bangga ketika aku ditakdirkan untuk berada di istana nan megah ini. Istana ini sangat teratur, banyak prajurit yang menjaga masing-masing ruangan di dalam istana. Menakjubkan ! tahukah, para mutiara ini tak hanya elok rupa, namun juga sangat pandai, bisa kau bayangkan betapa malunya aku berada disini, di tempat yang awalnya ku pikir bukan tempatku. Tempat yang awalnya ini asing bagiku.

Istana ini memiliki pemandangan yang sangat indah di setiap jendela yang terbuka begitu lebar. Di dalam istana ini, sungguh banyak yang ingin mengajak aku berkawan, banyak yang menasehatiku ini dan itu. Pernah aku lari dari mereka, aku bosan di nasehati, aku ingin pergi saja ke tempat asal ku, menyesal aku ditakdirkan disini, bisa-bisa aku tak penah bisa percaya pada diri sendiri, dan mungkin akan tetap menjadi pasir saja, itu plihanku (dulu). Namun, para mutiara itu seolah tak pernah kehabisan energi untuk mengejar ku, ternyata usut punya usut mereka ingin menjadikan ku mutiara seperti mereka. Hanya gelak tawa yang bisa ku lakukan ketika mendengar berita tersebut, berita yang kudapat dari para prajurit istana. Pikiranku berkata, mana bisa aku yang seorang pasir ini dapat menjadi mutiara nan cantik jelita, pasti mereka berbohong dan hanya akan menasehatiku saja terus menerus sampai aku bosan, padahal aku sudah bosan !

Waktu terus berjalan, dan aku tetap menjadi pasir. Seorang mutiara yang sudah lelah menasehatiku, pernah bertanya. Mengapa aku tak pernah mau untuk dinasehati, dibimbing untuk menjadi mutiara? Aku diam, dengan kenangkuhanku sebagai pasir, aku hanya bisa terdiam dan mengomel dalam hati. Setelah mutiara itu bertanya, ternyata pikiranku tertuju hanya pada pertanyaan itu dari hari ke hari, sehingga aku pusing dibuat bertanya-tanya dnegan pertanyaan yang semestinya aku jawab sendiri, Bodoh ku pikir. Suatu hari, tak sengaja lewat depan sekumpulan mutiara yang sedang bercerita, aku bersembunyi dibalik tirai dan menguping yng seharusnya tak boleh aku lakukan jika dikethui oleh prajurit. Ahhh tahukah kau betapa sedih dan menyesalnya setelah ku mendengarkan cerita mereka, ternyata dulu, mereka juga hanya sebutir pasir seperti aku, mereka juga pernah merasa tersesat ketika memasuki Istana megah ini, bahkan ada diantara mereka yang berontak karena tak tahan dengan binaan yang ada di istana tersebut, akhirnya suatu ketika mereka tersadar dan mau menuruti segala nasihat dan binaan dari mutiara yang baik di istana. Suatu malam, ketika mereka sudah cukup binaan, ketika terbangun dari tidurnya para pasir itu berubah menjadi mutiara nan cantik jelita, mereka tergugu di depn cermin kala mereka bercermin. Sejak saat itu, mereka tak pernah melalaikan segala binaan yang terdapat di Istana tersebut. Ahh, aku pun baru terenyuh dan tersadar, tekad ku sudah bulat, tak akan ku buat mundur lagi, aku harus jadi salah satu mutiara yang cantik itu, titik !

 

*Fiksi, terinspirasi dari perangai seorang teman. Terimakasih teman 🙂

Tembok besar, “akhwat ikhwan” dan “cewek cowok” !

Tergelitik untuk membahas tentang apa sih bedanya Akhwat dan cewek serta Ikhwan dan cowok. Sering menjadi pembeda disetiap komunitas. Kata akhwat dan ikhwan seringkali menjadi kata ‘gaul’ untuk menyatakan cewek dan cowok bagi anak-anak LDK, namun seringkali dengan kata-kata seperti inilah yang menjadikan sebuah tembok besar dimana ada pembeda antara anak-anak yang mengikuti kegiatan LDK atau sering mereka sebut dengan anak-anak alim. Saya sendiri diawal sebenernya kurang peduli dengan fenomena seperti ini, namun ternyata seringkali ini merupakan suatu pembatas dimana untuk menyebarkan syiar islam ini tidak menyeluruh kepada teman-teman yang bukan ‘akhwat dan ikhwan’.  Kalau dikalangan teman-teman saya, yang mana seorang wanita berjilbab panjang, panggilannya buka “cewek itu” lagi namun menjadi “akhwat itu”, indah memang terasa, namun terkadang saya merasa ini menjadi sebuah ejekan, karena yang saya ketahui teman-teman kita tersebut menjadi enggan untuk bergabung dengan orang-orang alim ini, sehingga tujuan mulia untuk menyebar syiar-syiar islam pun hanya tersampaikan kepada segelintir orang-orang yang masih dalam golongannya, mungkin ada saja teman-teman kita yang memang tergerak hatinya untuk tak menjadikan ini sebagai bahan olok-olokan, namun malah ingin mendalami bagaimana islam itu sesungguhnya, tak jarang pula teman saya yang seperti itu. Suatu hari, pernah saya bertanya kepada teman saya mengenai perbedaan antara akhwat dan ikhwan tersebut dengan cewek dan cowok, ada yang menggeleng, ada yang bilang ‘wah itu beda, dari penampilannya saja beda’, ada yang bilang hanya persepsi dan pandangannya saja yang berbeda. Menurut pendapat saya sendiri, yang membuat ini beda yah memang dari kelompok ‘akhwat dan ikhwan ini’, tunggu dulu, ada alasannya, yah memang mereka menonjolkan pembeda diantara teman-teman yang lain, misalnya bergaul hanya dengan mereka-mereka saja, bahkan tidak menutup kemungkinan kalau kita menambah pergaulan di luar sana, bisa menjadi ladang dakwah toh buat kita.

Bukan tidak ada alasan, sampai saya tergelitik untuk menulis ini, pernah suatu hari saya ditegur dengan pandangan yang sinis (menurut saya) dengan seorang akhwat, ‘lisa, kok roknya agak menggantung’ didepan umum saudara-saudara, dalam hati saya yang kesal”oke fine, gw salah karena pake rok gantung, tapi plis kalo lo mau ngasih tau, jangan depan umum, lo mau bikin malu gw! “. Dan saya mendengar pengalaman serupa pada teman saya seperti “ih kok baju tangannya menggantung”, dan bahkan ada jugayang lebih malu lagi daripada saya (tak bisa diceritakan), saran aja nih dakwah sih harus, tapi pliss, bisa kan bicara empat dan diwaktu yang tepat, orang itu beda-beda sifatnya, ada yang bisa terima dan bahkan nantinya ada yang menjauh, menyedihkan bukan kalua sampai menjauh seperti itu.

Setelah saya melihat, di kamus besar bahasa Indonesia, bahwasanya arti dari akhwat dan ikhwan tersebut adalah saudara perempuan dan laki-laki, dan kalau di Indonesia sering disebut cewek dan cowok. Jadi, bedanya apa toh, bedanya Cuma di bahasa indonesia dan bahasa arab saja kan, jadi seharusnya gak ada pembeda toh, bahkan bisa memperluas jaringan dakwah kamu. Oke, mungkin saya terlalu bagaimana ya di tulisan ini, saya juga masih belajar banyak tentang agama yang saya cintai ini, karena memang sedari kecil landasan saya beragama islam, dan rasa cinta saya sudah tumbuh dari kecil terhadap agama islam. Mohon maaf jika ada salah kata, mohon komentar dan perbaikannya, namun saya juga masih gak terima ada perbedaan antara akhwat dengan cewek, dan ikhwan dengan cowok !

Keringat ku Bercucuran, Namun tak di Pandang (Petani)

’Ingin rasanya, ku ambil batu, ku pecahkan rumah-rumah mereka yang mewah, mencari uang tanpa pikir hati, membesarkan pundi-pundi kantong mereka, namun tak memikirkan kami yang telah membesarkan busung-busung Lapar Mereka’

Petani, coba deh teman-teman survei ke masing-masing pemuda selain mahasiswa pertanian, tanya ke mereka, “nanti setelah pasca kampus, mau gak kita bareng-bareng jadi Petani?”. Pasti awalnya mereka mengerutkan kening, dan entahlah apa jawaban mereka. Saya pernah ditanya begini oleh seorang bapak-bapak yang anaknya kuliah di IPB juga namun Jurusan Ilmu Gizi.

“dek, dari IPB juga?” | “iya pak :D” | “Ambil apa di IPB?” | “Pertanian pak *nyengir lagi, menandakan kebanggaan” | haaa? Pertanian? Mending kamu Ulang dari semster satu lagi, dan ambil jurusan yang bukan pertanian, paling nanti Cuma jadi PNS” | *senyum kecut, diam menahan emosi.

Apakah pandangan masyarakat Indoenesia itu sudah berubah alur dan arah, coba deh bayangkan. Kalau suatu saat nanti, dengan jumlah penduduk yang semakin hari semakin banyak. Di dukung dengan teknologi yang semakin canggih, semua media, informasi, sarana terhubung secara praktis, namun kebutuhan untuk menjaga kestabilan dan energi tubuh tidak terpenuhi, apakah kalian yang dari jurusan listrik akan makan kabel-kabel listrik?, apakah kalian yang jurusan komputer akan makan tuts-tuts keyboard anda?!

Sudah beberapa kali, saya bertemu dengan orang yang memandang bidang pertanian tersebut, tidak akan menjamin masa depan yang lebih indah. Baru saja, kemaren, saya ngobrol-ngobrol dengan para petani yang ada di desa di sekitar Bogor. Beliau mengatakan bahwa “memang enak mereka yang tinggal membeli saja, lah mereka kan gak tau gimana keringet kita bercucuran untuk menghasilkan padi” (sedikit banyak yang diucapkan petani seperti itu). Jikalau kita mau merenung dan mengambil tindakan lebih, maka pasti hati petani pun tak akan mengeluh sedasyat itu. Belum lagi, para tengkulak-tengkulak kejam yang membeli produksi prtanian langsung dari petani dengan harga murah, ehh pas kita beli di pasaran, ternyata harganya bisa 3x lipat dari harga dari petani. Ini mah yang kaya bukan petaninya, melainkan para oknum yang tidak bertnggungjawab seperti tengkulak tersebut.

Jika kita ingin membandingkan dengan negara tetangga kita, bahwa mereka sangat didukung sekali untuk mengembangkan produksi pertanian mereka dengan didukung oleh teknologi yang tinggi, maka pantas saja kita iri dengan tetangga sebelah, di Indonesia sendiri, anggaran untuk pertanian belumlah mencukupi untuk mejadikan produk pertanian yang meningkat secara signifikan. Belum lagi, jika ada bantuan dari pemerintah, dana tersebut sudah di potong sana-sini *miris sekali.

Jadi,paling tidak, jika kita tak bisa membenahi dan membantu nasib para Petani dengan Materi, maka dengan dukungan moril pun cukup membuat senyum ikhlas para Petani untuk terus menjadi Petani. Yang muda, jangan pernah merasa malu untuk menjadi petani, hanya karena ayah/ibu nya sebagai petani dan tidak kaya dengan menyandang profesi sebagai petani. Wajib kita kumandangkan, Saya Bangga Menjadi Petani Indonesia !

Hebohnya Nge-gombal-gambil. Pesen Untuk Wanita Terlalu Sensitif !

Hallo, sudah lama sekali aku tak menulis di blog ini ahhh kebiasan yang selalu dinanti dikala penat mendera 😀

Yup, kali ini pengen bahas yang deket-deket lingkungan aja nih, kayaknya semua kalangan dari lingkuangan sekitar aku lagi hobi banget buat nge gombal-gombal untuk mencairkan suasana. Sampe asyiknya nge gombal, kita nih para kaum wanita ikutan juga mengeluarkan senjata ampuh tentang gombalan-gombalan yang super dan dasyat itu lho. Coba deh, sekali-kali kamu telisik dan perhatiin, kalo ada sekelompk temen-temen yang lagi nongkrong-nongkrong di pojok-pojokan kampus *bukan mojok ya, pasti salah satu jurus jitu untuk mencairkan dan menghangatkan suasana, pasti ada aja celetukan gombalan-gombalan dasyat. Misal nih

“eh, kamu tau gak kedalaman lautan yang paliiiingg dasar?” |“oh, gak, emang berapa ?” |“dalamnya itu, sedalam aku sudah jatuh ke dasar hati kamu” #eaaa

Ada lagi,

“boleh pinjem pulpennya gak?” |“ehm, boleh, emang buat apa? | “buat mengukir nama kamu di tiap lembar hatiku” #eaaa

Menarik sekali kalo udah gombal-gambil gak jelas itu, eiitts gak cuma sekedar mencairkan suasana lho, justru nge gombal itu meningkatkan kreatifitas dan kepekaan akan sekitar. Semakin orang itu kreatif dan peka, semakin dasyat pula aksi gombalnya. Berarti berbanding lurus dong antara kreativitas dan kegombalan *ehmm rumit.

Namun, teman-teman. Ternyata , ada juga lho kaum wanita yang kena korban gombal-gambil ini yang mendera ke GR an akut. Ketika para lelaki sedang menumpahkan segala kreativitasnya kepada salah satu kerabat wanitanya, terkadang kata-kata gombal tersebut langsung dimasukkin hati, padahal tujuan si lelaki jauh dari perkiraan si wanita. Mereka (kaum lelaki) hanya menggangap biasa saja bergombal ria, namun untuk wanita yang terlalu sensitif dan apa-apa dimasukkin ke hati, bisa gawat dan salah pengertian juga. Kalo kasus seperti ini nih yang harus kita hindari, tips aja buat temen-temen yang masuk dalam kategori tersebut, biar gak berlanjut kesalahpahamannya, “jangan terlalu sensitif banget, dan semuanya dianggap serius, kalo kayak gitu terus kan bikin sakit hati sendiri, bener tho” hehe

Yupp, mari bergombal ria, asal tujuannya tidak menyakitkan sesama.

Salam Kreativitas ! 😀

Aku rindu adikku (kembar)

Dulu, ketika mama ku melahirkan adik ku, ternyata adik ku tersebut kembar namun yang satu tak bisa diselamatkan karena jika adik ku di selamatkan maka ibu kamu satu-satunya tak bisa diselamatkan. Ketika di beri pilihan oleh dokter kepada papa, antara ibu akan selamat namun anak hanya selamat satu atau anak akan selamat keduanya dan memilik anak kembar namun ibu tak selamat. Jelas saja, papa memilih untuk mama selamat dan hanya satu anak yang hidup.

Yupp, cerita tersebut sudah sangat lama, pada tanggal 26 Agustus 1995. Tadi sore (21 Desember 2012), aku tertidur pulas karena kantuk yang tak tertahankan, padahal sedang mengetik laporan di kamar. Aku bermimpi, mimpi yang ketika bangun membuat aku bengong dan ingin menangis. Di dalam mimpi tersebut, aku melihat dua sosok yang sangat mirip, identik tak ada bedanya, dari mulai kepala, wajah, hidung yang sangat mancung, postur tubuh, tinggi tubuh yang menjulang dan kurus, jelas saja aku mengenalinya, itu kan Morris, adikku tapi kok ada dua?? Di dalam mimpi itu, kami sekeluarga seperti sedang mengunjungi sebuah rumah tua, yang ternyata sedang ditinggali dengan orang yang sosoknya mirip adikku, ku simpulkan saja dalam mimpi tersebut bahwa aku bertemu dengan adikku yang hilang. Sifatnya sangat berbanding terbalik dengan adik ku, si Morris. Ia yang wajahnya penuh senyum, membuat parasnya tambah tampan. Aku memandanganya saja merasa sangat teduh, dalam mimpi itu, Morris yang sifatnya memang sangat pendiam, dan cuek jika dibandingkan dengan kembarannya sangat jauh.

Morris yang bisa berubah menjadi pendiam dan cuek, baru ketika ia beranjak remaja saja. Aku tak tahu mengapa ia menjadi seperti itu, apa karena lingkungan dan teman-temannya atau karena apa aku tak pernah tahu, seakan aku sudah lama sekali melihat senyum simpul diwajahnnya, melihat paras tampannya dengan tertawa lepas, melihat candaan dan keusilannya yang sudah jarang kudapatkan.

Di mimpi tersebut, aku baru saja selesai mengerjakan sholat, dan sosok yang mirip adik ku itu mengikuti  dari belakang, ia juga melaksanakan sholat sesudah aku, dengan wajah yang sangat sangat teduh, dan tetap menjaga senyumnya. Aku berpikir, sebenarnya ini apa. Aku merindukan kembaran adikku yang sudah ada di sisi-Nya, atau kah aku merindukan sosok adikku (Morris) yang ceria seperti waktu ia masih kanak-kanak??

Hai, uni sampaikan rindu yang teramat sangat melalui malam

Uni bisikkan salam rindu dari kami melalui semilir angin malam ini

Mama, Papa, dan Morris pun titip salam untuk mu.

Kamu pasti sudah beranjak remaja sekarang.

Jika kamu ada di antara kami, alangkah senangnya aku memiliki dua jagoan yang akan melindungiku.

Menjadi super hero ku yang manis.

Menjadi pelindung paling tangguh untuk Mama, Papa di kala tua nanti, bersama kami.

Hmm, tetapi kamu memilih untuk berada di sisi-Nya.

Kamu lebih disayang Allah

Uni titip kan salam pada semilir angin, ini bukan salam biasa, ini salam rindu yang luar biasa.

Sangat berharap, kamu juga merindukan kami, datang lagi ke mimpi ku, dan kita berkumpul di rumah mungil, bukan ber-empat, namun ber-lima karena ada kamu :’)

*baru kali ini, aku bermimpi dan ketika bangun kepikiran setengah mati, merasakan rindu yang membuncah dan meneteskan air mata.